Refleksi Hardiknas 2026 : Gen Z Buol Sedang Dijajah Algoritma: Bahasa Daerah Tinggal Menunggu Upacara Pemakaman


JURNALNUSANTARA.ID, BUOL - Di tengah euforia transformasi digital, masyarakat sering lupa bahwa ada sesuatu yang diam-diam sedang sekarat di sudut rumah-rumah warga Buol, yakni bahasa ibu mereka sendiri. Ia tidak mati karena perang. Tidak dibunuh oleh bencana. Ia perlahan dihabisi oleh kelalaian kolektif, oleh rasa malu menjadi lokal, dan oleh generasi yang lebih akrab dengan bahasa media sosial dibanding bahasa tanah kelahirannya sendiri.

Hari ini, anak-anak muda Buol bisa menghafal istilah TikTok, bahkan fasih menirukan aksen Korea dari drama digital yang mereka konsumsi setiap hari. Namun ketika diminta berbicara menggunakan bahasa Buol, banyak yang terbata-bata. Sebagian bahkan tidak mengerti sama sekali. Ini bukan sekadar perubahan zaman. Ini adalah tanda bahwa satu identitas budaya sedang berada di ambang kepunahan.

Dan ironisnya, semua itu terjadi tepat ketika dunia pendidikan sibuk merayakan Hari Pendidikan Nasional dengan slogan-slogan besar tentang kemajuan generasi muda.

Kita terlalu sibuk membicarakan digitalisasi pendidikan, tetapi gagal bertanya,  pendidikan macam apa yang sedang kita bangun jika generasi mudanya tumbuh tanpa mengenal akar budayanya sendiri !? Untuk apa anak-anak Buol diajarkan menjadi warga global jika pada saat yang sama mereka kehilangan kemampuan memahami bahasa leluhurnya !?

Saat ini, bahasa Buol mulai diperlakukan seperti barang usang. Tidak bergengsi. Tidak modern. Tidak layak dipertontonkan di ruang publik. Bahasa Buol perlahan didorong masuk ke ruang sunyi, hanya terdengar dari orang-orang tua di kampung, dari percakapan adat yang mulai jarang dilakukan, atau dari sisa-sisa ingatan generasi tua yang sebentar lagi akan hilang bersama usia mereka.

Yang lebih menyedihkan, proses kepunahan ini justru berlangsung di depan mata institusi pendidikan. Sekolah yang seharusnya menjadi benteng pelestarian budaya justru sering menjadi ruang penyeragaman identitas. Anak-anak didorong mengejar standar modernitas nasional dan global, tetapi nyaris tidak diberi ruang untuk bangga terhadap identitas lokalnya sendiri. Bahasa Buol hanya ditempatkan sebagai pelengkap administrasi kurikulum, bukan sebagai fondasi kebudayaan.

Padahal bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah cara manusia memahami dunia. Dalam bahasa Buol tersimpan nilai sopan santun, cara menghormati orang tua, pengetahuan tentang alam, sejarah komunitas, hingga filosofi hidup masyarakat pesisir dan pegunungan yang diwariskan turun-temurun. Ketika bahasa itu hilang, maka yang ikut musnah bukan hanya kosakata, tetapi seluruh memori kolektif masyarakat Buol.

Persoalan ini tidak bisa dianggap romantisme budaya semata. Kepunahan bahasa daerah adalah krisis identitas. Generasi yang tercerabut dari akar budayanya akan tumbuh menjadi generasi yang mudah kehilangan arah. Mereka mungkin mahir menggunakan teknologi, tetapi rapuh dalam memahami siapa dirinya. Mereka hidup di Buol, tetapi pikirannya sepenuhnya dikendalikan budaya luar yang dikonsumsi tanpa filter setiap hari melalui layar digital.

Algoritma media sosial kini bekerja jauh lebih kuat daripada nasihat orang tua dan guru. Anak-anak muda dibentuk oleh tren, viralitas, dan budaya instan. Identitas lokal kalah bersaing dengan budaya populer global yang terus diproduksi secara masif. Akibatnya, banyak generasi muda mulai memandang budaya sendiri sebagai sesuatu yang kuno dan memalukan.

Inilah bentuk penjajahan baru yang jarang disadari, yakni penjajahan algoritma.

Ia tidak datang membawa senjata, tetapi membawa hiburan tanpa batas. Ia tidak merebut tanah, tetapi merebut perhatian dan cara berpikir generasi muda. Perlahan-lahan, generasi muda dibuat kagum pada budaya luar sambil dijauhkan dari akar identitasnya sendiri. Dan yang paling berbahaya, proses ini berlangsung dengan sukarela.

Olehnya itu, Hari Pendidikan Nasional tidak boleh berhenti menjadi seremoni tahunan penuh baliho dan pidato formal. Pendidikan harus kembali dipahami sebagai alat pembebasan budaya, bukan sekadar mesin pencetak tenaga kerja digital. Sekolah harus menjadi ruang yang menghidupkan identitas lokal, bukan justru mempercepat kematiannya.

Pemerintah Kab. Buol juga tidak bisa terus bersikap pasif. Tidak cukup hanya membuat festival budaya yang dianggap menganggap tugas pelestarian telah selesai. Harus ada langkah konkret dan serius, seperti penguatan kurikulum bahasa Buol, produksi konten digital berbahasa Buol, pelibatan komunitas adat, dokumentasi bahasa secara sistematis, hingga dukungan terhadap anak muda kreatif yang mau membawa bahasa Buol masuk ke ruang digital.

Jika tidak, maka beberapa tahun ke depan kita mungkin hanya akan menyaksikan bahasa Buol tinggal menjadi simbol formal dalam acara adat dan pidato seremonial. Ia tidak lagi hidup dalam percakapan sehari-hari. Ia hanya dikenang sebagai sesuatu yang “pernah ada”.

Dan ketika hari itu tiba, sesungguhnya yang sedang dikuburkan bukan sekadar bahasa Buol. Justru yang dikuburkan adalah harga diri kebudayaan masyarakat Buol sendiri.

 Penulis : Ismajaya

(Penulis adalah pemerhati sosial dan budaya)

Lebih baru Lebih lama