JURNALNUSANTARA.ID, Buol – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bongo memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan adanya telur busuk dalam paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beredar di media sosial pada Senin (26/1/2026).
Kepala SPPG Bongo, Jefriyanto, saat di wawancarai media Jurnal Nusantara (27/01/2026), menegaskan bahwa seluruh proses pengadaan, pengolahan, hingga pendistribusian paket MBG telah mengikuti standar keamanan pangan yang ketat dan terkontrol.
Proses Distribusi MBG Berjalan Sesuai Standar
Menurut Jefriyanto, tahapan pendistribusian paket MBG dilakukan secara terstruktur dan berlapis, mulai dari penerimaan bahan baku hingga distribusi ke sekolah.
Bahan makanan diterima di SPPG Bongo pada Minggu (25/1/2026) pukul 15.00–16.00 WITA dan langsung dilakukan pemeriksaan kualitas sebelum diproses. Selanjutnya bahan baku disiapkan hingga pukul 23.00 WITA, kemudian diolah pada dini hari Senin pukul 02.00–06.00 WITA melalui dua kali proses masak untuk memastikan makanan matang sempurna.
Setelah itu, makanan dikemas dalam wadah tertutup (omprengan) pada pukul 04.30–08.00 WITA dan didistribusikan ke sekolah-sekolah serta penerima manfaat lainnya pada pukul 08.30–09.00 WITA menggunakan kendaraan pengantar khusus.
Setibanya di sekolah, pihak sekolah menerima paket MBG di ruangan tertutup dan meletakkannya di atas meja. Pihak sekolah juga memeriksa jumlah paket sesuai jumlah siswa serta mengisi Berita Acara Serah Terima (BAST).
Selain itu, dilakukan uji organoleptik (uji sensori seperti bau, warna, dan rasa) dengan memilih paket secara acak sebelum makanan dibagikan kepada siswa.
“Hasil pemeriksaan tidak ditemukan makanan yang kurang baik, dan paket MBG dinyatakan layak konsumsi,” jelas Jefriyanto.
SPPG Bongo juga menegaskan bahwa makanan MBG wajib dikonsumsi di sekolah dan tidak dianjurkan dibawa pulang. Batas maksimal konsumsi makanan MBG adalah empat jam setelah didistribusikan.
“Makanan yang dibawa pulang tidak dapat kami pertanggungjawabkan karena berada di luar pengawasan SPPG,” tambahnya.
Menanggapi video telur busuk yang beredar, Jefriyanto menyatakan bahwa video tersebut diambil di luar jam kerja SPPG dan diduga makanan telah dibawa pulang oleh siswa.
“Kami memastikan semua bahan makanan yang diterima dan diproses di SPPG Bongo memenuhi standar kualitas dan keamanan pangan. Pengawasan dan evaluasi juga dilakukan secara berkala,” tegasnya.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Buol, Tuho Nisman Laia, turut memberikan penjelasan dan imbauan kepada sekolah dan orang tua siswa.
Ia berharap paket MBG dikonsumsi di sekolah untuk menjaga keamanan pangan. Namun, jika terpaksa dibawa pulang, makanan harus segera dikonsumsi setibanya di rumah dan diperiksa terlebih dahulu oleh orang tua.
“Jika ditemukan makanan rusak dalam batas waktu aman konsumsi, segera laporkan ke SPPG agar dapat diganti. Jika terjadi di sekolah, siswa dapat langsung melaporkan kepada guru,” ujarnya. (27/01/2026)
Komitmen Menjaga Kualitas Gizi Anak
SPPG Bongo dan BGN menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kualitas makanan bergizi bagi siswa serta memastikan program MBG berjalan aman, sehat, dan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak.
Penulis : Syam Manto
