JURNALNUSANTARA.ID, Maraknya unggahan di media sosial, khususnya
Facebook, terkait penyaluran Menu MBG selama bulan suci Ramadhan memicu
perdebatan di tengah masyarakat. Sorotan publik tertuju pada perubahan
jenis menu yang sebelumnya berupa makanan berat seperti nasi dan
lauk-pauk, kini menjadi paket berbuka puasa berisi Susu, roti,
buah-buahan, kurma, snack, kacang goreng, serta variasi menu ringan
lainnya.
Tak hanya soal jenis menu, perdebatan juga mencuat terkait
harga paket yang dinilai sebagian warganet tidak sesuai dengan nominal
Rp15.000 per porsi sebagaimana yang selama ini diketahui publik. Setelah
dilakukan kalkulasi oleh sejumlah netizen, muncul klaim bahwa nilai isi
paket dinilai hanya berkisar Rp10.000 bahkan ada yang memperkirakan
hanya Rp8.000.
Di sisi lain, tidak sedikit pula masyarakat yang
berpandangan bahwa apa pun bentuk dan nilainya, bantuan tersebut tetap
patut disyukuri karena membantu kebutuhan anak-anak yang sedang menuntut
ilmu, terlebih di bulan Ramadhan.
Menanggapi polemik tersebut,
Koordinator MBG Kabupaten Buol, Tuho Nisman Laiya, saat diwawancarai
media Jurnal Nusantara (23/02/2026) memberikan klarifikasi menyeluruh.
Ia
menegaskan bahwa total anggaran per porsi MBG memang sebesar Rp15.000.
Namun, dana tersebut tidak sepenuhnya dialokasikan untuk pembelian bahan
makanan.
“Pertama yang ingin saya luruskan, betul total anggaran per
porsi memang Rp15.000. Tapi anggaran yang dipakai untuk pembelian bahan
adalah Rp10.000 untuk paket besar dan Rp8.000 untuk paket kecil.
Sementara sisanya Rp3.000 adalah biaya operasional dan Rp2.000 untuk
yayasan sebagai biaya sewa fasilitas, baik peralatan maupun bangunan
SPPG,” jelas Tuho.
Ia juga merinci bahwa paket dengan anggaran bahan Rp8.000 diperuntukkan bagi balita serta siswa kelas 1 sampai kelas 3 SD.
Sementara paket dengan anggaran bahan Rp10.000 diperuntukkan bagi siswa kelas 4 SD hingga siswa SMA.
Dengan
skema tersebut, ahli gizi menyusun menu berdasarkan batas anggaran
belanja bahan makanan sesuai kategori penerima manfaat. Artinya,
perbedaan nilai paket bukanlah pengurangan dari total anggaran,
melainkan penyesuaian berdasarkan jenjang usia dan kebutuhan gizi
masing-masing kelompok.
Tuho menambahkan bahwa pendistribusian
paket menu kering selama Ramadhan telah mengikuti instruksi resmi
sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Kepala BGN Nomor 3 Tahun 2026
tentang paket menu yang dapat dibawa pulang oleh siswa selama bulan
Ramadhan.
Prinsipnya, menu disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang
berpuasa dan dirancang agar praktis dibawa pulang untuk dikonsumsi saat
berbuka.
Menanggapi berbagai masukan masyarakat, pihak MBG Kabupaten Buol juga mengambil sejumlah langkah perbaikan.
Pertama,
SPPG diinstruksikan untuk tidak lagi menggunakan kantong plastik
sebagai pembungkus paket MBG, melainkan menggantinya dengan totebag yang
dapat digunakan secara bergiliran.
Skemanya, totebag dibawa pulang
oleh siswa dan kemudian dibawa kembali ke sekolah keesokan harinya untuk
ditukarkan dengan paket MBG yang baru. Langkah ini diharapkan lebih
ramah lingkungan sekaligus mengurangi sampah plastik.
Kedua, SPPG
diminta untuk mencantumkan informasi kandungan gizi serta rincian harga
tiap menu dalam paket yang dibagikan. Tujuannya agar penerima manfaat
lebih teredukasi mengenai nilai gizi makanan yang diterima dan memahami
komponen pembiayaan program secara transparan.
Masyarakat Diminta Aktif Mengawal Program
Tuho
menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap kritik dan pengawasan
publik. Ia mengajak masyarakat untuk tidak ragu melapor apabila
menemukan paket MBG yang dinilai jauh dari standar nilai yang telah
ditetapkan.
Masyarakat dapat menyampaikan laporan kepada Kepala SPPG
setempat, Koordinator Wilayah (Korwil), atau langsung menghubungi call
center BGN pusat melalui SAGI 127.
Dengan klarifikasi ini, diharapkan
polemik di media sosial dapat diluruskan dan masyarakat mendapatkan
pemahaman yang utuh mengenai skema pembiayaan serta mekanisme distribusi
Menu MBG selama bulan suci Ramadhan.
Program MBG sendiri pada
dasarnya bertujuan membantu pemenuhan gizi siswa sesuai kelompok usia,
agar tetap dapat menjalankan ibadah puasa sekaligus mengikuti proses
belajar dengan baik dan sehat.
Penulis : Syam Manto
